Jaga Telinga Agar Jauh Dari Neraka

 DJATI FM Banda Aceh,  17-02-2017 01:56:08

  

tutup-telinga

 

Radio Djati FM – Segala sesuatu yang diciptakan Allah SWT tentunya memiliki fungsi tersendiri. Misalnya telinga, yaitu organ tubuh manusia yang berfungsi sebagai indra pendengaran. Selain itu telinga juga berhubungan dengan saraf otak yang berfungsi dalam menjaga keseimbangan tubuh. Di samping itu Rekan Djati, telinga juga menduduki posisi yang penting dalam mempengaruhi manusia agar berbuat baik atau berlaku buruk. Bahkan telinga dapat menjadi penyebab seseorang masuk ke dalam neraka. Pasalnya telinga bisa saja digunakan untuk mendengarkan hal-hal yang tidak baik, seperti mendengarkan seseorang bergunjing tentang orang lain. Hal ini amat sangat dilarang di dalam Islam, bahkan seseorang yang hanya mendengarkan, dosanya sama dengan dosa orang yang mengucapkan. Begitu pula halnya dengan mendengarkan adu domba, fitnah dan perkataan atau suara yang diharamkan lainnya. Sebaiknya telinga dipergunakan untuk mendengarkan nasehat-nasehat bijak, baik dan bermanfaat bagi diri sendiri dan sesama.

 

Rekan Djati, ada dua cara kita bisa menghindarinya. Pertama, melarang dan meninggalkan ghibah. Sebuah riwayat dari Imam Nawawi di dalam Al-Adzkar bahwa:
“Ketahuilah bahwa ghibah itu diharamkan bagi orang yang berghibah, diharamkan pula bagi orang yang mendengarkan dan menyetujuinya. Sehingga wajib bagi siapa saja yang mendengar seseorang berghibah untuk melarang orang tersebut, jika ia takut terhadap azabnya. Dan apabila ia takut dengan orang yang menyuruhnya, maka wajib baginya mengingkari dengan hatinya lalu meninggalkan majelis ghibah itu.”

 

Dengan demikian Rekan Djati, apabila ia mampu untuk mengingkari dengan lisannya atau memotong pembicaraan ghibah dengan pembicaraan lainnya, maka wajib baginya untuk melakukannya dan bila ia tidak melakukannya berarti ia telah bermaksiat. Namun apabila ia berkata dengan lisannya, “Diamlah” namun jika di dalam hatinya ingin pembicaraan ghibah itu dilanjutkan, maka hal tersebut merupakan kemunafikan yang tidak bisa membebaskan dia dari dosa.

 

Rekan Djati, yang kedua adalah dengan menyibukkan diri dengan berdzikir kepada Allah SWT. Apabila tidak memungkinkan baginya untuk menghindari tempat ghibah tersebut, atau apabila ia telah mengingkari namun tidak diterima, maka haram baginya untuk istima’ (mendengarkan) dan isgha’ (mendengarkan dengan seksama) pembicaraan ghibah tersebut. Maka hendaknya ia berdzikir kepada Allah SWT dengan lisan maupun dengan hatinya atau dengan memikirkan perkara lain agar ia bisa melepaskan diri dari mendengarkan ghibah tersebut. Sehingga tidak ada dosa baginya mendengar ghibah yaitu hanya sekedar mendengarkan namun tidak memperhatikan dan tidak faham dengan apa yang didengarnya.

 

Sejatinya segala sesuatu yang diciptakan Allah SWT memiiliki manfaatnya masing-masing. Namun alangkah lebih baik bila kita mempergunakannya untuk